Jarak Pandang Danny Wijaya
Indonesia akan selalu kesepian, Gus. Syukurnya panjenengan sudah dimerdekakan dari kesepian saya, kesepian kita, yang cuma bisa memimpikan sebuah taman kanak-kanak ramah-rukun di mana siswanya boleh berpakaian apa saja di bawah kepemimpinan siapa pun yang menyemarakkan hati kita dengan sukacita.
Gus, panjenengan mungkin hanya akan mesem saja, sedikit geram, mencermati penghuni TK Indonesia yang kadang, dalam bahasa nakal Cak Nun, merasa lebih tuhan dari tuhan sendiri. Tapi jangan bersedih dulu untuk itu. Mari saya bisiki ke telinga panjenengan: selang beberapa jam setelah panjenengan ditimbali pulang ke rumah abadi seminggu lalu, dua puluh pengguna multiply yang kebetulan berjajar dalam inboks saya menuliskan salam perpisahan kepada panjenengan lewat kalimat ngungun. Mereka sangat kehilangan. Mereka mengenang yang terbaik dari diri panjenengan; dan dengan demikian jiwa mereka bersedia rebah di bumi layaknya makhluk penyandang nurani yang hening bagi berita lelayu.
Memang ada juga dua dari kontak saya, tak dapat saya maktubkan di sini inisialnya, Gus, yang bersorak. Salah satu dari anak-anak itu ada yang bilang dalam bahasa Inggris: “Satu dari tiga thogut Nusantara modern sudah modar. Tinggal satu lagi, maka kerja kita selesai”. Di sana ia sekalian menyebut inisial NM dan JR.
Siapa NM itu?—kata kawannya yang menanggapi di bingkai komentar.
Anu, yang penggiat pendidikan liberal itu.
Ooo, yang sudah meninggal itu juga, ya? Ya, saya tahu—timpal si kawan, seperti dalam situasi leha-leha santai membincangkan harga produk makanan kemasan kadaluarsa yang telah ditarik dari peredaran.
Gusti….
Saat itu ia menyebut “our desk…”, Gus. Fasih sekali anak-anak itu berlagu. Sefasih fasis.
Masa 1940-an dan hari kini seolah cuma dibedakan oleh kumis kotak dan swastika, yang hanya tahu saya-engkau; kami versus mereka. “Kita” hanya satu. “Mereka” jurig semuanya. Tiap homo sapiens di atas dunia ini wajib menyandang predikat, kalau tidak protagonis maka antagonis; juga wilayah hunian imajiner, bila bukan di negeri kita, maka di negeri mereka. Panjenengan hidup jauh di sana, menurut hemat mereka, Gus. Sangat-sangat berjarak dari ibukota-Islam. Contoh lain, mengucapkan “Selamat Natal” adalah adab haram kawasan sana. Kita nan benar. Sedang Syiah itu bid’ah milik mereka. Khilafah adalah cita-cita kita. Namun saya agaknya keliru menerapkan kata “kita” di kalimat yang ia tulis di notesnya, di multiply yang baik hati ini.
Harusnya saya memakai “kami” untuk menyebut diri sang penulis notes. Inilah keunggulan bahasa Indonesia. Inggris cuma punya “our” untuk kata possesive adjective, Indonesia punya “kami” dan “kita”. Dan ya, saya mestinya menerjemahkannya jadi “kami”, sebab ada lebih banyak anggota bangsa ini yang bersedih mengangeni panjenengan, Gus, ketimbang yang girang menari di atas kematian dengan jubah-jubah lucu yang kebesaran. Sebab ada terlalu banyak orang yang tak pernah ingin menjadi lebih tuhan dari tuhan sendiri.
Bagi gerombolan anak yang bersorak itu mungkin tidak ada ruang-antara sekecil apa pun untuk memuat kebesaran panjenengan. Jasa-jasa panjenengan bagi bangsa malang ini hapus. Meski anak-anak ini relatif menikmati kebebasan bicara karena upaya-upaya penjenengan di masa lalu, itu tak ada bekasnya. Sejak masa panjenengan hidup, anak-anak ini sudah menemukan bahan bakar untuk menyulut diri mereka dan tetangga-tetangganya yang mereka dakwahi supremasi tafsir pribadi. Dan mereka mempersetankan panjenengan, meski panjenengan sudah wafat, entah demi kesopanan-agamawi mana yang mereka pilih, sesuka-suka mereka sendiri.
Anyway, lantas orang yang kedua dalam jajaran kontak saya itu kemudian membuat notesnya sendiri pula di akunnya: “Lanjutkan ide PLURALISME? Sorry, say BIG NO for that!”
Kedua notes itu, maaf, bukan fenomena. Itu hal yang wajar untuk jadi alasan membangun identitas, segelap apa pun identitas itu. Kita sedang krisis identitas, Gus. Urbanisasi, konsumerisme, sedang terus menghancurkan ikatan-ikatan identifikasi di masa lalu. Orang sudah tak paham sungguh-sungguh lagi siapa dirinya dan di mana mereka punya ikatan batin dengan hidup. Meski saya getun dan sedih membaca hujatan-hujatan ke arah panjenengan, saya tetap bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak TK ini hanya sedang gila temporer dan mencari-cari obat untuk memulihkan derita bawah sadarnya, lalu kebetulan saja mereka ketemu agama. Agama jadi kuda. Padahal itu agama panjenengan jua, Gus.
Gus, kalau pun ada yang harus bersorak setelah kepergian panjenengan, kami pikir itu “setani”. Dengan batasan definitif bahwa sifat setaniah mengamban mandat untuk mengasah kesombongan-iman dan menjabarkan benci seluas mungkin di antara umat. Bahkan merilis keangkuhan metodologis.
Justru Dur itu yang setan! Dia yang nunut Islam! Dia bukan Islam! Dia dibaptis! Assalamualaikum jadi selamat pagi! Imlek yang pagan dikasih libur! Itu bukan Islam!
Yang Islam itu KAMI!
hehehe…jenaka sekali…
Saya tahu Den Bagus mengajari kami untuk tidak ambil pusing atas cerca-cerca. Anak-anak itu tak dapat didebat. Karenanya, goda-godai saja. Jika saya sengaja mengajukan tesis berbau kitab bahwa keragaman adalah fitrah serta akidah-akidah agama lain wajib dibiarkan saja, mereka akan punya seabreg-abreg ayat dan hadits lagi, berikut istilah-istilah agama asing yang menyokong performa eksklusif yang mereka tegakkan, guna menggilas-mempermalukan kehormatan manusia beradab, bahkan martabat agamanya sendiri di mata pemeluk agama lain. Tak mungkin ada “hukum acara debat” yang kompatibel untuk melayani anak-anak kepala batu. Dialog pasti berangkat dari peta permasalahan serta prioritas yang tak sama. Dibilangi agar sedikit berimprovisasi dengan sekularisasi untuk membolehkan diri mengucap “Selamat Natal” (karena niat kita ialah bergaul rukun dan bukan untuk meyakini akidah orang lain), anak-anak itu bilang-bilang (dua kali lipat) bahwa ulama telah menegaskannya; ayatnya ada; ikutilah. Tuhan seperti dianggap tak punya kapasitas mengetahui niat-niat sejati di dalam sanubari. Dan anak-anak memang kadung alergi suplemen berjudul sekularisasi. Lalu kalau diomongi problematika dunia yang paling setengah mati adalah kemiskinan dan penghancuran lingkungan hidup, mereka merasa tetap punya urgensi untuk omong-omong klaim bedebah-laknat-kafir-bid’ah. Ditanya mengapa, lagi-lagi alasannya: karena digariskan ulama yang bertugas mulia memurnikan praktik wadag di seluruh aspek kehidupan. Dan mohon diketahui, Gus, yang anak-anak maksud dengan “ulama” ialah patron-patron iman yang mereka rujuk sendiri. Kasarnya: para ulama bermerek kami saja. Padahal panjenengan sudah mengajari banyak bagi bangsa ini, Gus, namun apesnya panjenengan tak dianggap ulama.
Sebenarnya anak-anak ini cocok sekali bergaul dengan penganut korporatisme liberal karena ada konvergensi kiat dan visi. Kalau yang pertama bertujuan memastikan kekuasaan harta, yang terakhir kepingin otoritas suci. Yang satu bekerja dengan mengumbar fitnah atas Dunia Ketiga untuk justifikasi perang, yang satu juga memasarkan label negatif ke atas manusia lain demi superioritas norma. Bedanya, yang satu pemain, lainnya justru yang dimain-mainkan. Namun keduanya berbarengan yakin bahwa Pencipta manusia bisa ditaruh di kursi belakang dan dapat diandaikan tak kecewa jika umat dianiaya.
Tiba giliran pihak lain yang berkeras menahankan pandangan berbeda, atau minimal ketidaksetujuan, anak-anak ini punya serep ayat-cakra lagi: “percuma memberi peringatan kepada mereka, kaum yang membuta-tuli dari peringatan!” Atau semboyan lain: “orang-orang kafir akan selalu membencimu, wahai kaum beriman”. Indah sekali. Kalau sudah begitu lalu mundur petentengan gaya bijaksana. Haduh, bayangkan air muka anak-anak itu, Gus, usai mengucap mantra sakti. Luar biasa kontekstual. Arif. Seakan ada hula-hoop dari cahaya melayang-layang di atas kepala.
Anak-anak ini tahu persis rute syariat mana yang dibenarkan untuk menyalahkan. Dibenarkan untuk menyalahkan. Dibenarkan untuk menyalahkan (baca 33 kali buat wiridan…).
Kanak-kanak ini kukuh menyembah metodologi dan referensi mereka sendiri, Gus. Sanad ini dan anu dan mereka Syiah orientalis amerika dan iblis Nusantara bla-bla Yahudi laknat Nasrani syirik lewat ayat-ayat cinta tauhid tolah-toleh Ahmadiyah jeblos murni unta bunting Semar Gareng eng-ing-eng reiki bidah yoga haram halal anak ingusan plintat-plintut plinthang-plintheng penthil puting induk anjing.
Maaf. Saya ‘ngafir. Bicara saya kotor sekali dan tidak ada kosakata Arabnya. Maaf. Saking benak saya enggak lempeng sesuai dialektika ala anak manja yang selalu minta barang teristimewa. Merasa diri “kaum yang dianakemaskan tuhan”. Tak heran jika anak-anak memusuhi tutur, laku dan pendirian panjenengan, Gus. Panjenengan terlalu sering menggoda-godai mereka melalui polah-polah—yang jelas terlihat. Gampang ditafsir dan dengan demikian mudah ditahikucingi dan disosialisasikan ke para kandidat-kandidat pembenci. Lalu direinterpretasi keroyokan bin massal (meskipun yang bernama massa itu sebetulnya penderita-antitesis sementara sintesisnya mbuh berlangsung di ranah mana). Saya yakin anak-anak itu tahu bahwa budaya “amin-aminan” masih ada di Indonesia. Anak-anak barangkali tergiur menulis tesis berbuah amin. Manfaat riilnya apalagi kalau bukan: posisi tawar.
Jenazah sampeyan bahkan tak dihormati dengan berdiri seperti Rasul junjungan anak-anak ini takzim empat belas abad lalu ketika mayit seorang Yahudi diarak ke kuburnya. Untuk hal ini, dan untuk caci-maki yang mengiringi, anak-anak tentu saja punya excuse sendiri. Anak-anak justru gembira atas kemangkatan penjenengan karena, yah, apa boleh dikata…mereka dapat momentum baru untuk mencari dan kembali menetapkan musuh bersama. Walah, Gus, semua praksis parlementaria sejak jaman Yunani dengan sekuel Romawi, sampai jaman konsolidasi Orde Baru di Indonesia dua ribu tahun berikutnya, menganut trik-trik sama saja: temukan seteru kolektif yang masuk akal tanpa pikir panjang-panjang. Sebab kalau susah dicerna, konsumen akan lari. Wacana bisa-bisa tak terpasarkan maksimal. Lalu tuailah popularitas dari eksekusi-inkuisisi yang kau ganyangkan bagi bangsat-bangsat itu, “sang mereka”, lebih bagus lagi dengan teriak sekencang-kencangnya.
“Selamat Natal haraaam!”
“Amiiin.”
“Demokrasi itu menyeleweng dari agama kitaaa!”
“Jawabnya hanya satuuu: khilafaaah!!!!”
“Reiki bidah bagi Allah!”
“Segala puji bagi Allah!!!! Untung kami dulu berpikir sama juga, Ikhwan. Kami masih dijaga. Oh….”
“Kompas, komando pastor! Gus Dur antek Israeeeel!”
“Allah maha besaaar!!!!”
Tapi, Gus, kita tidak bisa ujar kritik tanpa risiko dibilang buta dan tuli.
Floating mass, Gus. Dikombinasi dengan frustrasi, adonannya kasar sekali. Sejujurnya, banyak sekali orang yang menderita karena keterbatasannya, dimiskinkan sejarah! Maka mungkin kalau tak mampu pamer pundi, alternatifnya bisa pamer iman. Walau itu hanya dugaan lho, Gus. Saya tidak pernah ingin memaksakan validitas psikososialnya. Yang saya paham bangsa ini memang “sakit” belaka.
Pluralisme dan sekularisme dan sinkretisme atau apalah…memang sudah bablas, Gus. Saya tidak mengerti sebetulnya siapa yang membablaskan istilah-istilah tadi menjadi sangat kontradiktif terhadap kesucian-iman. Kata-kata ini bermakna lain dari satu ke lain kamus. Apalagi dari satu ke lain kepala. Mengatakan bahwa substansi yang termuat di sana bebas dari nilai pasti bakal dikatai lelucon. Definisinya adalah ini-itu, kata anak-anak. Dan seluruh artinya adalah mungkar. Siapa cakap kata-kata itu baik barangkali darahnya spontan halal, zionis (padahal zionis artinya “transmigrasi”), dan kentut yang membuat wudlu-mu batal.
Anak-anak merasa punya definisi untuk segalanya, Gus.
Andai mereka tahu bahwa mereka membonceng keleluasaan demokratis untuk berpendapat, barangkali anak-anak ini mafhum kalau mereka berutang banyak sekali kepada seluruh rakyat Indonesia, dan semua pendiri-pendiri negara pewaris keberagaman mutlak yang memang lekat pada keadaan asali penduduknya, Gus. Jika anak-anak ini sempat berasumsi mereka adalah bagian silent majority dan merasa wajib menyuarakan “kebenaran”, goddamn…, saya kataken.
Silent majority? No. They’re brisik-minority. Ada jauh lebih banyak penduduk ber-KTP Islam yang tak sudi mengotori dirinya dengan sentimen-sentimen dipaksakan dari corong tak jelas, membenci karena grojogan politisasi-komodifikasi nas-nas suci, yang hanya akan membikin lingkungan pergaulannya sebagai keluarga bangsa jadi makin eksklusif kalau tak justru renggang dan saling mencurigai.
Kemana saja anak-anak ini dulu di era Simbah Harto, Gus? Nyaris tidak ada terbersit teriakan-teriakan takbir melawan angkara Cendana. Perasaan, yang dikepruk-kepruki cuma kaum “sekuler” thok? Kini anak-anak ngomong agama berbusa-busa tapi tak bisa berceritera keningnya disundut rokok di kantor koramil, atau kakinya ditumpangi kaki meja kerja kapolsek. Panjenengan sempat memanajeri Fordem dan anak-anak ini mungkin dahulunya hanya belum punya sponsor untuk ceramah ketidakadilan. Bahkan mereka, di Indonesia, tak pernah berbunyi-bunyi sebelum 9/11. Kini ada bising kopar-kapir yang aneh datang dari arah publik. Saya enggak mengerti.
Gus, andai saja di jaman akhir ini ras manusia sudah sadar bahwa agama itu barang yang tidak terdengar dan tidak kelihatan, orang-orang semacam kontak saya itu tak perlu ada. Agama bertahta di dalam hati. Tuhan bersemayam di dasarnya dalam lapis-lapis cahaya yang tak seorang punya wewenang untuk menontonnya. Barangkali tak perlu ada pihak-pihak yang mengotorisasi dirinya sebegitu ngawur sampai melanggar yurisdiksi Langit; bergunjing-gunjing dalam dakwaan, menggelar persidangan dan menetapkan putusan mereka sendiri bagi sesamanya atas nama agama layaknya onani. Tak ada kaum yang mengecap wallahualam bishawab di setiap opininya sembari merasa dia sendiri yang benar, karena dua proklamasi itu sangat bertolak belakang. Tapi dengan berkata begini saya malah kedengaran kaya Lennon. Lennon sudah mati. Panjenengan pun sudah naik ke kemuliaan. Cuma Indonesia yang tersisa di sini, dikepung cerita-cerita sedihnya sendiri.
Terima kasih untuk segalanya, Gus. Sumbangsihmu yang terbesar ialah menjadikan hidup ini ringan, dan meyakinkan kita untuk berani hidup berdampingan dengan siapa saja tanpa perlu menggali sisi-sisi tergelap dari dasar kesadaran. Dan kita ini kecil. Kita cuma debu. Tapi debu yang punya harga diri dan mampu merangkum alam semesta di dalam kalbu.
Setelah melampaui derita penjajahan panjang, rasa hina dan malu sebagai bangsa, sudah sepantasnya arkipel ini mengenyam bahagia dan damai di rumahnya sendiri, tanpa kobaran keresahan bikinan warganya yang doyan cari atensi, kurang kerjaan, merobek-robek sambil menjahit ulang jiwa orang lain dengan kemarahan, kesedihan, keterusikan yang lebih berat.
Negeri ini kesepian dari damai, Gus. Kampung yang guyub adalah cita-cita, tak peduli apa agama para tetangga dan bagaimana agama-agama itu mengejawantah. Namun suatu saat jika keturunan-keturunan kita—saking mangkelnya pada pelacuran agama—terdesak membuat amandemen ke-666 terhadap mukadimah UUD menjadi “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka AGAMA harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…”—kita tahu koruptor agama macam apa yang kira-kira paling bertanggung jawab dan patut disesalkan.
Den Bagus Wahid, selamat jalan. sekali lagi, banyak sekali yang sudi menggebug. Bukan tentara, melainkan akal sehat