Struktur Acara Majlis Ilmu Maiyah

Posted by Maiyah | Posted in inFORMation | Posted on 09-02-2010

0

Red/Progress

maiyahan

Berikut adalah kesepakatan yang dicapai oleh perwakilan Jamaah Maiyah pada Pertemuan Pematangan Hasil Kesepakatan Haflfah Maiyah 2009 dan Pematangan Panduan Acara Rutin Majlis Ilmu Maiyah pada 28 Januari 2010 di Kadipiro.

Struktur acara rutin majelis ilmu Padhangmbulam Jombang, Bangbang Wetan Surabaya, Obor Ilahi Malang, Kenduri Cinta Jakarta, Mocopat Syafaat Yogyakarta, dan Gambang Syafaat Semarang adalah sebagai berikut:

  1. Acara dimulai dengan Tadarrus AlQuran. (Mulai Padhangmbulan 30 Januari 2010 tadarus dimulai dari awal yaitu juz 1 oleh JM PMb, sampai juz berapa PMb berheti kemudian akan disambung JM BBW pada acara BBW, kemudian disambung JM Obor Ilahi pada acara Obor Ilahi, disambung lagi JM KC pada acara Kenduri Cinta, diteruskan lagi oleh JM Mocopat Syafaat pada acara Mocopat Syafaat, dan disambung JM Gambang Syafaat pada acara Gambang Syafaar, dan balik lagi ke Padhangmbulan, dan seterusnya).
  2. Wirid dan shalawat Maiyah. Yang disepakati dalam pertemua ini adalah aransemen baru KiaiKanjeng: Hasbunallah, Robbi ya Robbi, Subhanallah, dan Liannahum.
  3. Pendalaman buku Tafsir Cak Fuad “Maiyah di dalam AlQuran”. Mulai Padhangmbulan 30 Januari 2010 dan berujung pada Gambang Syafaat, teman-teman JM akan mendalami topik Pola Hubungan Maiyah sub topik a. Maiyah Allah Swt dengan Para Hamba (hlm. 18). Sesudah Gambang Syafaat mendapat giliran, maka setelah itu Padhangmbulan akan memasuki sub topik baru.
  4. Metode tafsirnya, salah satunya, adalah sebagaimana diterangkan Mas Toto Rahardjo. (baca Daur Tafsir Kontekstual). Prinsipnya, tafsir mengedepankan keterkaitan langsung dan konkret antara ayat dan pengalaman hidup JM. Ada proses afirmasi dan konfirmasi atau sebaliknya.
  5. Dialog dll. Menu 1,2, dan 3 bisa disebut menu wajib. Sedang pada urutan yang keempat ini bisa muncul dialog-dialog, penampilan-penampilan, dan kemungkinan-kemungkinan lain.

Daur Tafsir Kontekstual

Posted by Maiyah | Posted in ARTikel, inFORMation | Posted on 09-02-2010

0

Toto Rahadjo

Pengantar Redaksi: Tulisan ini disusun mengiringi kesepakatan JM pada pertemuan Pematangan Hasil Kesepakatan Haflfah Maiyah 2009 dan Pematangan Panduan Acara Rutin Majlis Ilmu Maiyah di Kadipiro 28 Januari 2010. Di antara kesepatakan itu adalah para JM akan secara rutin mengadakan kajian pendalaman atas tafsir Cak Fuad atas Maiyah yang tertuang dalam buku yang ditulisnya berjudul “Maiyah di dalam Al-Quran”.

toto2Semua orang-jamaah sangat diperbolehkan menafsir, bahkan semestinya wajib. Karena proses tafsir merupakan bagian untuk menghidupkan akal budi. Tafsir juga merupakan kaca benggala sensitivitas dan cerminan setiap orang pada pemahaman, pengalaman, dan sekaligus cermin dari pandangan hidupnya.

Tentu yang menarik adalah sebuah proses menafsir bersama dengan cara, sudut, dan jarak pandang yang beda merupakan pertarungan pemaknaan pada realitas dan pada akhirnya menjadi kesepakatan dan kesepahaman bersama.

Metode Daur Tafsir
Langkah pertama adalah tentukan bab mana dari ayat-ayat yang berkaitan dengan maiyah yang akan ditafsir dengan dimulai dari contoh apa yang dirasakan, yang dilihat, yang didengar, apa yang dialami. Langkah kedua adalah coba ungkapkan dari realitas yang diangkat di atas (apa, siapa, kapan, berapa). Langkah ketiga adalah mulailah menganalisis (menafsir)–mengapa terjadi seperti itu, mengapa ada fakta, data, fenomena seperti itu. Pada langkah ini dimensi warna, keluasan, aliran pikiran akan muncul–juga pada kedalaman. Langkah keempat adalah memasuki tahap kesimpulan. Kesimpulan akan meluas dan mendalam ditentukan seberapa kelengkapan data, tingkat kekritisan analisis serta bagaimana pendalaman ayat-ayat tersebut pada realitasnya. Langkah kelima adalah sebuah langkah persepakatan–lalu mau apa, bagaimana sebaiknya.

Kerja Tafsir Kontekstual merupakan Proses Pendidikan
Sebagai contoh, tradisi Katholik membagi 2 untuk urusan tafsir yakni Imam dan kaum awam. Awam tidak diperkenankan menafsir–namun pada kenyataannya apa mungkin manusia tidak menafsir? Manusia yang tidak diperkenankan menafsir sama artinya dengan menafikan harkatnya sebagai manusia (dehumanisasi). Namun dari pengalaman itu banyak orang Katholik yang justru menjadi pionir metode-metode partisipatif termasuk mengembangkan teologi pembebasan. Jadi pada dasarnya proses-proses dehumanisasi semacam itu mendua, yakni terjadi di mayoritas umat dan juga atas diri kaum imam.

Dengan menyimak pengalaman tersebut kita menyadari bahwa menafsirkan bersama di kalangan jamaah adalah upaya proses pendidikan yang tertuju pada fitrah manusia sejati yakni menjadi pelaku (subyek) bukan penderita (obyek), sejalan dengan nilai-nilai yg terkandung dalam maiyah. Jamaah maiyah harus menggeluti dunia dan realitasnya dengan penuh daya cipta dengan menggunakan energi maiyah sehingga lahir sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (language of thought), yakni pada hakekatnya jamaah mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya (yang didalamnya terkandung relasi Allah dan Nabi) dengan bekal akal pikiran, budi, dan tindakannya. Dengan menafsir dengan cara praxis sesungguhnya jamaah tengah memaknai dunia dan realitasnya.

Bertolak tentang manusia dan maiyah, kemudian merumuskan gagasan-gagasan tentang hakikat maiyah dalam suatu dimensi yang sifatnya sama sekali baru dengan situasi di sekelilingnya (pembaharuan), maka proses tafsir haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas jamaah dan dirinya sendiri. Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat obyektif atau subyektif, tetapi harus dua-duanya. Kebutuhan obyektif untuk mengubah keadaan yang tidak manusiawi selalu diperlukan kemampuan subyektif (kesadaran subyektif) untuk mengenali terlebih dahulu keadaan yg tidak manusiawi, yang terjadi senyatanya yang obyektif. Maka obyektifitas dan subyektifitas bukan dua hal yang bertentangan, bukan dikotomi. Kesadaran subyektif dan kemampuan obyektif yakni fungsi dialektis dalam diri seseorang dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Maka hubungan dialektis tidak berarti persoalan mana yang lebih benar atau yang lebih salah. Maka proses tafsir ayat-ayat maiyah harus melibatkan tiga unsur dalam hubungan dialektis yang lumintu:

* pemandu

* jamaah

* realitas dunia

Langkah awal yang paling menentukan dalam proses menafsir ayat-ayat maiyah secara kontekstual yakni harus dilakukan secara terus menerus–selalu “mulai dan mulai lagi”, maka akan ditemukan proses SEHATI (inherent). Maka hakikat dari proses menafsir merupakan dunia kesadaran yg tidak boleh berhenti, harus terus berproses, berkembang dan meluas dari satu tahap ke tahap berikutnya sampai akhirnya mencapai tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam yakni “kesadarannya kesadaran” (the consice of the consciousness)–inti dari kesadaran manusia yakni intensionalitas pengalaman akan realitas. Jika seseorang/jamaah sudah mencapai tingkat kesadaran tertinggi maka sudah masuk ke dalam proses pengertian bukan proses menghafal semata-mata.

Orang-orang/jamaah yang mengerti bukanlah orang yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau sesuatu berdasarkan sesuatu “sistem kesadaran”. Sedangkan orang/jamaah yang menghafal hanya menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis tanpa (perlu) sadar apa yang dikatakannya, dari mana ia telah menerima hafalan yang dinyatakannya itu, dan untuk apa ia menyatakan kembali pada saat itu.

Arti penting kata-kata yang dinyatakan seseorang/jamaah sekaligus mewakili kesadarannya, fungsi interaksi antara tindakan dan pikirannya. Menyatakan kata-kata yang benar dengan cara yang benar adalah menyatakan kata-kata yang memang disadari atau disadari maknanya, disitulah arti memahami realitas. Kata-kata yang dinyatakan sebagai bentuk pengucapan dari bentuk kesadaran, bukanlah kata-kata yang diinternalisasikan dari luar tanpa melalui proses refleksi, bukan slogan, namun berasal dari perbendaharaan kata-kata orang/jamaah itu sendiri untuk menamakan dunia yg dihayatinya sehari-hari, betapapun sederhana. []


Fenomena Gus Dur

Posted by Maiyah | Posted in Biografi, KariCatur | Posted on 08-02-2010

0

KH. Musthofa Bisri


Presiden Amerika Serikat ke 35, John F. Kennedy atau JFK (1917-1963 M) yang nasibnya banyak mirip dengan presiden pendahulunya, Abraham Lincoln, ketika meninggal terbunuh pada tanggal 22 November 1963, dunia ikut berduka. Maklum karena JFK merupakan presiden Negara adikuasa; dikenal sebagai presiden Amerika yang berani, mempunyai pandangan ke depan, dan menjanjikan perubahan dunia. Namun, meskipun saat pemakamannya banyak sekali yang hadir, masih terhitung tidak seberapa bila dibandingkan saat pemakaman presiden Republik Mesir, Gamal Abdel Nasser (1918-1970).

Maka pada waktu itu dunia –termasuk saya yang langsung– menyaksikan pemakaman paling akbar dalam sejarah modern. Guiness book memperkirakan pelayat presiden Gamal Abdel Nasser mencapai 4 juta dan menetapkan sebagai pemakaman dengan pelayat terbesar. Presiden bertubuh raksasa yang mengaku ‘murid’nya presiden kita Bung Karno itu benar-benar orang yang ‘tahu saat harus meninggal’. Setelah selesai pertemuan tingkat tinggi yang membahas berbagai perbedaan pendapat di antara beberapa kepala negara di Kairo; Gamal sebagai tuan rumah mengantar satu-persatu tamu-tamunya kembali ke negara masing-masing. Saya masih ingat yang terakhir diantar ke bandara ialah Amir Shabah dari Kuwait. Setelah itu radio dan tv Mesir berhenti menyiarkan berita. Semua hanya menyiarkan bacaan Al-Quran. Ternyata presiden yang dianggap paling berjasa mendamaikan raja Husein dari Yordan dengan raja Faisal dari Saudi Arabia dan Yasser Arafat dari Palestina itu dipanggil ke rahmatullah setelah pulang dari bandara mengantarkan Amir Sabah.Besoknya kepala-kepala negara yang dilepas Gamal kemarin itu, berdatangan kembali. Kali ini untuk memberi penghormatan terakhir kepada presiden yang mereka hormati itu.

Waba’du; presiden kita keempat, Gus Dur alias KH. DR.Abdurrahman Wahid Ad-Dakhil (1940-2009) sudah ‘40 hari’ meninggalkan kita.. Presiden yang pengaturan pemakamannya jadi ‘rebutan’ antara keluarga dan protokol negara itu, dilepas menuju keharibaan Tuhannya oleh presiden, petinggi-petinggi negara, para kiai, dan ratusan ribu warga masyarakat. Pers dunia tidak hanya memberitakan kewafatannya, tapi juga menulis pribadi dan keistimewaannya. Majalah kenamaan The Economics bahkan menceritakan kembali joke-joke Gus Dur yang mentertawakan diri sendiri.Presiden pertama kita Bung Karno, sebenarnya andai tidak dizhalimi oleh pemerintah orde baru yang menggantikannya, mungkin pemakamannya tidak kalah akbar dari pemakaman ‘murid’nya dari Mesir itu. Kepopuleran Bung Karno di dunia tidak kalah dari Gamal. Hanya saja Gamal pada saat wafat sedang berada dalam puncak kepopuleran, Kalau di negerinya sendiri Bung Karno waktu itu kurang dihargai, pemakamannya hanya ‘ala kadarnya’; di Mesir –yang saya tahu– sangat dihormati oleh pemimpin-pemimpin Mesir dan dicintai rakyatnya. Mesir berkabung 7 hari atas kemangkatan Bung Karno dan beberapa mass media menulis tentang presiden pertama kita itu, seingat saya, sampai 15 hari.


Seolah-olah orang tidak puas memberikan penghormatan terakhir kepada Gus Dur saat dimakamkan, berbagai kelompok masyarakat mengadakan acara-acara khusus untuk mengenang presiden yang dimakzulkan oleh para politisi – yang dulu mendukung pengangkatannya— itu. Ada Seribu Lilin Untuk Gus Dur. Ada berdoa bersama untuk Gus Dur yang diikuti oleh pimpinan berbagai agama dan kepercayaan. Ada beberapa komunitas etnis dan agama yang masing-masing menyelenggarakan acara khusus untuk menghormati almarhum. Belum lagi simpati-simpati yang diutarakan dalam situs, facebook, dan blog-blog di internet. Di makamnya sendiri di Tebuireng, setiap hari hingga kini rombongan-rombongan masyarakat dari berbagai pelosok tanah air, bahkan juga dari luar negeri, masih terus berdatangan.



Khusus dalam rangka 40 hari wafat presiden rakyat itu, acara-acara mengenang kiai unik itu digelar di mana-mana. Dalam rangka itu, saya sendiri mendapat undangan tidak kurang dari 9 panitia dari berbagai kota di tanah air. Tidak hanya berbentuk doa bersama atau tahlilan dan pengajian; tapi ada pula yang dikemas dalam acara seminar; orasi budaya; kesenian; tirakatan; dsb. Seniman serba bisa Slamet Gundono malah menyelenggarakan acara budaya sehari semalam di Solo dengan tidak ketinggalan menggelar lakon Kuncung Semar. Studio Mendut Magelang berencana mengadakan pameran patung Gus Dur. Masyarakat Pati lain lagi, rencananya akan mengadakan pawai keliling sebelum acara puncak di alon-alon Pati.Melihat fenomena yang fenomenal itu, sampai ada kiai sepuh yang menyatakan bahwa mulai nabi Adam belum pernah ada manusia yang diperlakukan seperti Gus Dur itu. Menurut saya sendiri, fenomena ini tidak hanya patut masuk Muri-nya Jaya Suprana, tapi sangat layak masuk Guiness Book of Records.
Demikianlah; karena Gus Dur menghargai keberagaman, maka dia pun dihargai oleh berbagai ragam manusia, terutama yang menerima keberagaman, meskipun pasti ada –terutama dari kalangan mereka yang tidak menyukai keberagaman—yang tidak menghargai bahkan merendahkannya. Dan akan hal ini Gus Dur maklum belaka.

Hanya ini yang bisa saya tuliskan dalam rangka peringatan 40 hari wafat Gus Dur. Dalam buku-buku saya; saya sudah sering membicarakan Gus Dur; bahkan ada buku saya yang khusus mengenai cucu pendiri-pendiri NU ini. Kalau masih kurang, di toko-toko buku ada ratusan buku tentang manusia langka ini.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbika raadhiyatan mardhiyyah fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii …


Source: Simbah Kakung

Diplorotin Celananya

Posted by Maiyah | Posted in KariCatur | Posted on 06-02-2010

0

Cak Sun


Sudah berapa lama kita seperti ini. Bahkan Ki Ndableg ngrundel dalam percakapannya setiap hari. Ki Ndableg, terus ngomong ngalor-ngidul tanpa batas. Dan lagi-lagi, ia mengajukan pertanyaan dan kemudian ia jawab sendiri pertanyaan itu.

“Brakkk…”
dibanting pintu kamarnya dengan keras.

“Saya ini bukan Nabi, Malaikat, atau Petani, tukang kebun, apalagi Presiden, Jendral” Ki Ndableg mbentak2 di depan cermin.
“Haa haaa… Lha emang siapa yang ngomong kon iku Nabi, jendral dll…”
dengan wajah serius, lebih dekat Ki Ndableg melotot ke cermin. menjawab pertanyaan sendiri.
“Hehh… rungokno yo cok, saya pake surban, ada org langsung meminta saya ngajari baca qur’an, saya pake mobil, dipinta lagi berapa harganya, darimana asalnya. Tidak ada kedewasaan sedikit-pun.”

“haa ha haaaa…. ” Ki Ndableg ketawa sambil kakinya mancal-mancal. bahkan sampai ber-jam-jam. Buku, koran kardus yang biasa ia pakai tidur dan sholat, jadi berantakan.
Entah setan apa yang merasuki Ki Ndableg. Seandainya Jin, setan atu iblis manapun, akan takut jika berpapasan dengan Ki Ndableg. Mungkin bukan setan yang merasuki Ki Ndableg, karena sebenarnya setan sendiri takut kerasukan Ki Ndableg.

Tiba-tiba
“Matane suwek, matane suwek, matane suwek….”
“Ndas kroaaaaaaak…”
“Diploroti celononeee……….”

Otot-otot Ki Ndableg jadi kaku, hingga nyempul keluar, bagai pemain tinju mau jotos lawan.
“Lha sopo sing diploroti celonone Dull….?”
“Haa haaa….. Ndas kroak, dimana dirimu hahh…? lihatlah pada sekililingmu, jangan hanya makan, turu, nelek, makan, turu nelek tok..”
Lag-ilagi Ki Ndableg menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dengar, tidak pantas saya menasehati, mengkhutbahi” Ki Ndableg Sambil menunjuk ke seluruh ruangan kamar.
“Duna akhirat yang terpenting adalah apa yg ia lakukan untuk orang banyak, dicatat atau tidak, diketaui atau tidak, masuk koran atau tidak, dapat penghargaan/award atau tidak, itu identitas cok…!!”

“hii hii hiii…”Ki Ndableg mringissss….hingga keliatan gigi2nya yg kuning karena 6 hari hanya mandi sekali saja. bagi dia, itu pun pemborosan.
“Ingat, nabi dan rosul pun cuma diolewati untuk disampaikan kepada semua Jin dan Manusia”.

“Selama ini kita tidak terasa sedang dalam pemerkosaan”.
“Maksdunya apaaaaaa.>..!!”
Ki Ndableg berdialog sendiri sambil menahan geli.

“Kita dalam satu instansi, lembaga, sekolah, kuliahan, aktivis kemahasiswaan, sedikit-demi sedikit sedang diplorotin celananya”.
“kita masih belum diperkosa, masih dipreteli disek….!!”

“diplorotin celananya adalah dibuka habis-habisan Aurat-nya”
“Pendidikan diplorortin hingga terkuak mafia-mafia pendidik yg membohongi murid, dosen main mata dengan mahasiswi-nya, kiai menihaki dua, tiga, lima, bahkan maunya sepuluh santri wanitanya”.

“kita dengar dan lihat itu….???”
Ki Ndableg menunjuk ke salah satu lemari yg penuh dengan buku2 perkuliahannya.
“Siapa yang plorotin???”
“lihat..!! informasi-informasi yang begitu cepat, telah mengalihkan pandangan kita”
Ki Ndableg sedikit menahan tangis.

“Hedonisme informasi, feodalisme budaya, ketidak mampuan intelektual, Peteng ndedet-nya spiritual itu semua telah menutupi Aurat-aurat kita”

kali ini Ki Ndableg benar2 menangis. Seperti biasa, semua buku2, majalah koran yang dari dulu menemani ia di kamar, berantakan tak karuan.

“Ada yg melorot ke sumur secara pelan2 oleh prilaku dan statement2-nya sendiri”
“kita ngomong ngalor-ngidul soal ini, itu, karena ada tendensi”

“mendewa-dewakan orang Sholeh di kampung yang sebenarnya masuk ke dalam tempurung”
“Hii hiiii hiiii….” Ki Ndableg tertawa melebihi nini pelet kalau ketawa.

“ndas kroaak…!!”
“katak dalam tempurung maksudnya hal-hal tempurungnya, segala yang melingkupi dirinya sehingga ia mau dianggap baik oleh masyarkatnya”.
“sebenarnya ia tidak mengerti persoalan2 masyarakat luas, ia ndak merasa ia sedang dalam tempurung. Tetapi karena dijunjung oleh orang banyak ia baik, ia soleh, ia berjilbab, ia bersorban, ia habis pergi haji dan nggak mau kalau ndak dipanggil Pak haji..!!”

Ki Ndableg sambil melotot matanya.
“Sehinggga pada suatu saat ia akan memalukan bahkan mempermalukan dirinya lambat atau cepat”.

Ki Ndableg Mengakhiri dengan nada tegas, seperti sang proklamator RI.

*Begitulah dulur, hari-hari Ki Ndableg selalu bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.

Gus

Posted by Maiyah | Posted in KariCatur | Posted on 26-01-2010

0

Jarak Pandang Danny Wijaya


Indonesia akan selalu kesepian, Gus. Syukurnya panjenengan sudah dimerdekakan dari kesepian saya, kesepian kita, yang cuma bisa memimpikan sebuah taman kanak-kanak ramah-rukun di mana siswanya boleh berpakaian apa saja di bawah kepemimpinan siapa pun yang menyemarakkan hati kita dengan sukacita.

Gus, panjenengan mungkin hanya akan mesem saja, sedikit geram, mencermati penghuni TK Indonesia yang kadang, dalam bahasa nakal Cak Nun, merasa lebih tuhan dari tuhan sendiri. Tapi jangan bersedih dulu untuk itu. Mari saya bisiki ke telinga panjenengan: selang beberapa jam setelah panjenengan ditimbali pulang ke rumah abadi seminggu lalu, dua puluh pengguna multiply yang kebetulan berjajar dalam inboks saya menuliskan salam perpisahan kepada panjenengan lewat kalimat ngungun. Mereka sangat kehilangan. Mereka mengenang yang terbaik dari diri panjenengan; dan dengan demikian jiwa mereka bersedia rebah di bumi layaknya makhluk penyandang nurani yang hening bagi berita lelayu.

Memang ada juga dua dari kontak saya, tak dapat saya maktubkan di sini inisialnya, Gus, yang bersorak. Salah satu dari anak-anak itu ada yang bilang dalam bahasa Inggris: “Satu dari tiga thogut Nusantara modern sudah modar. Tinggal satu lagi, maka kerja kita selesai”. Di sana ia sekalian menyebut inisial NM dan JR.

Siapa NM itu?—kata kawannya yang menanggapi di bingkai komentar.

Anu, yang penggiat pendidikan liberal itu.

Ooo, yang sudah meninggal itu juga, ya? Ya, saya tahu—timpal si kawan, seperti dalam situasi leha-leha santai membincangkan harga produk makanan kemasan kadaluarsa yang telah ditarik dari peredaran.

Gusti….

Saat itu ia menyebut “our desk…”, Gus. Fasih sekali anak-anak itu berlagu. Sefasih fasis.

Masa 1940-an dan hari kini seolah cuma dibedakan oleh kumis kotak dan swastika, yang hanya tahu saya-engkau; kami versus mereka. “Kita” hanya satu. “Mereka” jurig semuanya. Tiap homo sapiens di atas dunia ini wajib menyandang predikat, kalau tidak protagonis maka antagonis; juga wilayah hunian imajiner, bila bukan di negeri kita, maka di negeri mereka. Panjenengan hidup jauh di sana, menurut hemat mereka, Gus. Sangat-sangat berjarak dari ibukota-Islam. Contoh lain, mengucapkan “Selamat Natal” adalah adab haram kawasan sana. Kita nan benar. Sedang Syiah itu bid’ah milik mereka. Khilafah adalah cita-cita kita. Namun saya agaknya keliru menerapkan kata “kita” di kalimat yang ia tulis di notesnya, di multiply yang baik hati ini.

Harusnya saya memakai “kami” untuk menyebut diri sang penulis notes. Inilah keunggulan bahasa Indonesia. Inggris cuma punya “our” untuk kata possesive adjective, Indonesia punya “kami” dan “kita”. Dan ya, saya mestinya menerjemahkannya jadi “kami”, sebab ada lebih banyak anggota bangsa ini yang bersedih mengangeni panjenengan, Gus, ketimbang yang girang menari di atas kematian dengan jubah-jubah lucu yang kebesaran. Sebab ada terlalu banyak orang yang tak pernah ingin menjadi lebih tuhan dari tuhan sendiri.

Bagi gerombolan anak yang bersorak itu mungkin tidak ada ruang-antara sekecil apa pun untuk memuat kebesaran panjenengan. Jasa-jasa panjenengan bagi bangsa malang ini hapus. Meski anak-anak ini relatif menikmati kebebasan bicara karena upaya-upaya penjenengan di masa lalu, itu tak ada bekasnya. Sejak masa panjenengan hidup, anak-anak ini sudah menemukan bahan bakar untuk menyulut diri mereka dan tetangga-tetangganya yang mereka dakwahi supremasi tafsir pribadi. Dan mereka mempersetankan panjenengan, meski panjenengan sudah wafat, entah demi kesopanan-agamawi mana yang mereka pilih, sesuka-suka mereka sendiri.

Anyway, lantas orang yang kedua dalam jajaran kontak saya itu kemudian membuat notesnya sendiri pula di akunnya: “Lanjutkan ide PLURALISME? Sorry, say BIG NO for that!”

Kedua notes itu, maaf, bukan fenomena. Itu hal yang wajar untuk jadi alasan membangun identitas, segelap apa pun identitas itu. Kita sedang krisis identitas, Gus. Urbanisasi, konsumerisme, sedang terus menghancurkan ikatan-ikatan identifikasi di masa lalu. Orang sudah tak paham sungguh-sungguh lagi siapa dirinya dan di mana mereka punya ikatan batin dengan hidup. Meski saya getun dan sedih membaca hujatan-hujatan ke arah panjenengan, saya tetap bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak TK ini hanya sedang gila temporer dan mencari-cari obat untuk memulihkan derita bawah sadarnya, lalu kebetulan saja mereka ketemu agama. Agama jadi kuda. Padahal itu agama panjenengan jua, Gus.

Gus, kalau pun ada yang harus bersorak setelah kepergian panjenengan, kami pikir itu “setani”. Dengan batasan definitif bahwa sifat setaniah mengamban mandat untuk mengasah kesombongan-iman dan menjabarkan benci seluas mungkin di antara umat. Bahkan merilis keangkuhan metodologis.

Justru Dur itu yang setan! Dia yang nunut Islam! Dia bukan Islam! Dia dibaptis! Assalamualaikum jadi selamat pagi! Imlek yang pagan dikasih libur! Itu bukan Islam!

Yang Islam itu KAMI!

hehehe…jenaka sekali…

Saya tahu Den Bagus mengajari kami untuk tidak ambil pusing atas cerca-cerca. Anak-anak itu tak dapat didebat. Karenanya, goda-godai saja. Jika saya sengaja mengajukan tesis berbau kitab bahwa keragaman adalah fitrah serta akidah-akidah agama lain wajib dibiarkan saja, mereka akan punya seabreg-abreg ayat dan hadits lagi, berikut istilah-istilah agama asing yang menyokong performa eksklusif yang mereka tegakkan, guna menggilas-mempermalukan kehormatan manusia beradab, bahkan martabat agamanya sendiri di mata pemeluk agama lain. Tak mungkin ada “hukum acara debat” yang kompatibel untuk melayani anak-anak kepala batu. Dialog pasti berangkat dari peta permasalahan serta prioritas yang tak sama. Dibilangi agar sedikit berimprovisasi dengan sekularisasi untuk membolehkan diri mengucap “Selamat Natal” (karena niat kita ialah bergaul rukun dan bukan untuk meyakini akidah orang lain), anak-anak itu bilang-bilang (dua kali lipat) bahwa ulama telah menegaskannya; ayatnya ada; ikutilah. Tuhan seperti dianggap tak punya kapasitas mengetahui niat-niat sejati di dalam sanubari. Dan anak-anak memang kadung alergi suplemen berjudul sekularisasi. Lalu kalau diomongi problematika dunia yang paling setengah mati adalah kemiskinan dan penghancuran lingkungan hidup, mereka merasa tetap punya urgensi untuk omong-omong klaim bedebah-laknat-kafir-bid’ah. Ditanya mengapa, lagi-lagi alasannya: karena digariskan ulama yang bertugas mulia memurnikan praktik wadag di seluruh aspek kehidupan. Dan mohon diketahui, Gus, yang anak-anak maksud dengan “ulama” ialah patron-patron iman yang mereka rujuk sendiri. Kasarnya: para ulama bermerek kami saja. Padahal panjenengan sudah mengajari banyak bagi bangsa ini, Gus, namun apesnya panjenengan tak dianggap ulama.

Sebenarnya anak-anak ini cocok sekali bergaul dengan penganut korporatisme liberal karena ada konvergensi kiat dan visi. Kalau yang pertama bertujuan memastikan kekuasaan harta, yang terakhir kepingin otoritas suci. Yang satu bekerja dengan mengumbar fitnah atas Dunia Ketiga untuk justifikasi perang, yang satu juga memasarkan label negatif ke atas manusia lain demi superioritas norma. Bedanya, yang satu pemain, lainnya justru yang dimain-mainkan. Namun keduanya berbarengan yakin bahwa Pencipta manusia bisa ditaruh di kursi belakang dan dapat diandaikan tak kecewa jika umat dianiaya.

Tiba giliran pihak lain yang berkeras menahankan pandangan berbeda, atau minimal ketidaksetujuan, anak-anak ini punya serep ayat-cakra lagi: “percuma memberi peringatan kepada mereka, kaum yang membuta-tuli dari peringatan!” Atau semboyan lain: “orang-orang kafir akan selalu membencimu, wahai kaum beriman”. Indah sekali. Kalau sudah begitu lalu mundur petentengan gaya bijaksana. Haduh, bayangkan air muka anak-anak itu, Gus, usai mengucap mantra sakti. Luar biasa kontekstual. Arif. Seakan ada hula-hoop dari cahaya melayang-layang di atas kepala.

Anak-anak ini tahu persis rute syariat mana yang dibenarkan untuk menyalahkan. Dibenarkan untuk menyalahkan. Dibenarkan untuk menyalahkan (baca 33 kali buat wiridan…).

Kanak-kanak ini kukuh menyembah metodologi dan referensi mereka sendiri, Gus. Sanad ini dan anu dan mereka Syiah orientalis amerika dan iblis Nusantara bla-bla Yahudi laknat Nasrani syirik lewat ayat-ayat cinta tauhid tolah-toleh Ahmadiyah jeblos murni unta bunting Semar Gareng eng-ing-eng reiki bidah yoga haram halal anak ingusan plintat-plintut plinthang-plintheng penthil puting induk anjing.

Maaf. Saya ‘ngafir. Bicara saya kotor sekali dan tidak ada kosakata Arabnya. Maaf. Saking benak saya enggak lempeng sesuai dialektika ala anak manja yang selalu minta barang teristimewa. Merasa diri “kaum yang dianakemaskan tuhan”. Tak heran jika anak-anak memusuhi tutur, laku dan pendirian panjenengan, Gus. Panjenengan terlalu sering menggoda-godai mereka melalui polah-polah—yang jelas terlihat. Gampang ditafsir dan dengan demikian mudah ditahikucingi dan disosialisasikan ke para kandidat-kandidat pembenci. Lalu direinterpretasi keroyokan bin massal (meskipun yang bernama massa itu sebetulnya penderita-antitesis sementara sintesisnya mbuh berlangsung di ranah mana). Saya yakin anak-anak itu tahu bahwa budaya “amin-aminan” masih ada di Indonesia. Anak-anak barangkali tergiur menulis tesis berbuah amin. Manfaat riilnya apalagi kalau bukan: posisi tawar.

Jenazah sampeyan bahkan tak dihormati dengan berdiri seperti Rasul junjungan anak-anak ini takzim empat belas abad lalu ketika mayit seorang Yahudi diarak ke kuburnya. Untuk hal ini, dan untuk caci-maki yang mengiringi, anak-anak tentu saja punya excuse sendiri. Anak-anak justru gembira atas kemangkatan penjenengan karena, yah, apa boleh dikata…mereka dapat momentum baru untuk mencari dan kembali menetapkan musuh bersama. Walah, Gus, semua praksis parlementaria sejak jaman Yunani dengan sekuel Romawi, sampai jaman konsolidasi Orde Baru di Indonesia dua ribu tahun berikutnya, menganut trik-trik sama saja: temukan seteru kolektif yang masuk akal tanpa pikir panjang-panjang. Sebab kalau susah dicerna, konsumen akan lari. Wacana bisa-bisa tak terpasarkan maksimal. Lalu tuailah popularitas dari eksekusi-inkuisisi yang kau ganyangkan bagi bangsat-bangsat itu, “sang mereka”, lebih bagus lagi dengan teriak sekencang-kencangnya.

“Selamat Natal haraaam!”

“Amiiin.”

“Demokrasi itu menyeleweng dari agama kitaaa!”

“Jawabnya hanya satuuu: khilafaaah!!!!”

“Reiki bidah bagi Allah!”

“Segala puji bagi Allah!!!! Untung kami dulu berpikir sama juga, Ikhwan. Kami masih dijaga. Oh….”

“Kompas, komando pastor! Gus Dur antek Israeeeel!”

“Allah maha besaaar!!!!”

Tapi, Gus, kita tidak bisa ujar kritik tanpa risiko dibilang buta dan tuli.

Floating mass, Gus. Dikombinasi dengan frustrasi, adonannya kasar sekali. Sejujurnya, banyak sekali orang yang menderita karena keterbatasannya, dimiskinkan sejarah! Maka mungkin kalau tak mampu pamer pundi, alternatifnya bisa pamer iman. Walau itu hanya dugaan lho, Gus. Saya tidak pernah ingin memaksakan validitas psikososialnya. Yang saya paham bangsa ini memang “sakit” belaka.

Pluralisme dan sekularisme dan sinkretisme atau apalah…memang sudah bablas, Gus. Saya tidak mengerti sebetulnya siapa yang membablaskan istilah-istilah tadi menjadi sangat kontradiktif terhadap kesucian-iman. Kata-kata ini bermakna lain dari satu ke lain kamus. Apalagi dari satu ke lain kepala. Mengatakan bahwa substansi yang termuat di sana bebas dari nilai pasti bakal dikatai lelucon. Definisinya adalah ini-itu, kata anak-anak. Dan seluruh artinya adalah mungkar. Siapa cakap kata-kata itu baik barangkali darahnya spontan halal, zionis (padahal zionis artinya “transmigrasi”), dan kentut yang membuat wudlu-mu batal.

Anak-anak merasa punya definisi untuk segalanya, Gus.

Andai mereka tahu bahwa mereka membonceng keleluasaan demokratis untuk berpendapat, barangkali anak-anak ini mafhum kalau mereka berutang banyak sekali kepada seluruh rakyat Indonesia, dan semua pendiri-pendiri negara pewaris keberagaman mutlak yang memang lekat pada keadaan asali penduduknya, Gus. Jika anak-anak ini sempat berasumsi mereka adalah bagian silent majority dan merasa wajib menyuarakan “kebenaran”, goddamn…, saya kataken.

Silent majority? No. They’re brisik-minority. Ada jauh lebih banyak penduduk ber-KTP Islam yang tak sudi mengotori dirinya dengan sentimen-sentimen dipaksakan dari corong tak jelas, membenci karena grojogan politisasi-komodifikasi nas-nas suci, yang hanya akan membikin lingkungan pergaulannya sebagai keluarga bangsa jadi makin eksklusif kalau tak justru renggang dan saling mencurigai.

Kemana saja anak-anak ini dulu di era Simbah Harto, Gus? Nyaris tidak ada terbersit teriakan-teriakan takbir melawan angkara Cendana. Perasaan, yang dikepruk-kepruki cuma kaum “sekuler” thok? Kini anak-anak ngomong agama berbusa-busa tapi tak bisa berceritera keningnya disundut rokok di kantor koramil, atau kakinya ditumpangi kaki meja kerja kapolsek. Panjenengan sempat memanajeri Fordem dan anak-anak ini mungkin dahulunya hanya belum punya sponsor untuk ceramah ketidakadilan. Bahkan mereka, di Indonesia, tak pernah berbunyi-bunyi sebelum 9/11. Kini ada bising kopar-kapir yang aneh datang dari arah publik. Saya enggak mengerti.

Gus, andai saja di jaman akhir ini ras manusia sudah sadar bahwa agama itu barang yang tidak terdengar dan tidak kelihatan, orang-orang semacam kontak saya itu tak perlu ada. Agama bertahta di dalam hati. Tuhan bersemayam di dasarnya dalam lapis-lapis cahaya yang tak seorang punya wewenang untuk menontonnya. Barangkali tak perlu ada pihak-pihak yang mengotorisasi dirinya sebegitu ngawur sampai melanggar yurisdiksi Langit; bergunjing-gunjing dalam dakwaan, menggelar persidangan dan menetapkan putusan mereka sendiri bagi sesamanya atas nama agama layaknya onani. Tak ada kaum yang mengecap wallahualam bishawab di setiap opininya sembari merasa dia sendiri yang benar, karena dua proklamasi itu sangat bertolak belakang. Tapi dengan berkata begini saya malah kedengaran kaya Lennon. Lennon sudah mati. Panjenengan pun sudah naik ke kemuliaan. Cuma Indonesia yang tersisa di sini, dikepung cerita-cerita sedihnya sendiri.

Terima kasih untuk segalanya, Gus. Sumbangsihmu yang terbesar ialah menjadikan hidup ini ringan, dan meyakinkan kita untuk berani hidup berdampingan dengan siapa saja tanpa perlu menggali sisi-sisi tergelap dari dasar kesadaran. Dan kita ini kecil. Kita cuma debu. Tapi debu yang punya harga diri dan mampu merangkum alam semesta di dalam kalbu.

Setelah melampaui derita penjajahan panjang, rasa hina dan malu sebagai bangsa, sudah sepantasnya arkipel ini mengenyam bahagia dan damai di rumahnya sendiri, tanpa kobaran keresahan bikinan warganya yang doyan cari atensi, kurang kerjaan, merobek-robek sambil menjahit ulang jiwa orang lain dengan kemarahan, kesedihan, keterusikan yang lebih berat.

Negeri ini kesepian dari damai, Gus. Kampung yang guyub adalah cita-cita, tak peduli apa agama para tetangga dan bagaimana agama-agama itu mengejawantah. Namun suatu saat jika keturunan-keturunan kita—saking mangkelnya pada pelacuran agama—terdesak membuat amandemen ke-666 terhadap mukadimah UUD menjadi “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka AGAMA harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…”—kita tahu koruptor agama macam apa yang kira-kira paling bertanggung jawab dan patut disesalkan.

Den Bagus Wahid, selamat jalan. sekali lagi, banyak sekali yang sudi menggebug. Bukan tentara, melainkan akal sehat