Non Profit BUKAN No Profit

Posted by Maiyah | Posted in ARTikel, inFORMation, sosial | Posted on 28-07-2010

0

Jarak Pandang: Roni Oktafian

board

ronDulu, banyak orang memandang heran ketika mendengar jawaban, “Saya bekerja di organisasi nonprofit” atas pertanyaan, “Apa kerjaanmu?” Ada prasangka, banyak anggapan bahwa organisasi nonprofit tidak layak dijadikan jawaban atas pertanyaan semacam itu? Mengapa organisasi nonprofit berada pada wilayah yang berbeda dengan status pekerjaan lainnya?

Organisasi pada dasarnya adalah aksi melakukan sesuatu yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang berkumpul dengan aktifitas dan tujuan tertentu, umumnya terdapat sistem struktur kerja yang saling terhubung antara kelompok satu dan yang lainnya. Anda bisa sebut itu sebagai perusahaan, ormas, partai politik atau bahkan karang taruna, itu semua adalah bentuk-bentuk organisasi. Jadi perusahaan pun adalah bentuk lain dari organisasi.

Perusahaan (organisasi) nonprofit adalah organisasi yang tidak mencari laba atau profit. Lalu bagaimana ia menghidupi kegiatan berorganisasinya? Di titik inilah yang kurang dipahami oleh sebagian besar orang. Tidak mencari profit bukan berarti anda tidak boleh mendapatkan profit. Organisasi nonprofit sedikit berbeda dengan lembaga zakat (atau semacamnya) dimana penggalangan dana dilakukan searah yaitu dari donasi para donaturnya saja dan dana itu kemudian diserahkan kepada kelompok orang yang ‘membutuhkan’.

Pola organisasi nonprofit hampir sama dengan pola organisasi perusahaan (corporate) pada umumnya. Organisasinya terstruktur dengan komisaris dan direktur komplit dengan para karyawannya. Namun visi para ‘pekerja’ telah dibekali dengan kecukupan wawasan bahwa semua aktifitas yang mereka lakukan tidak dalam rangka memperkaya diri sendiri. Layaknya perusahaan, aktifitas organisasi nonprofit juga fokus pada isu dan program misi tertentu.

Yang dimaksud dengan profit secara umum adalah margin yang diperoleh dari penjualan (produk atau jasa) dikurangi biaya produksi yang didalamnya termasuk biaya operasional (gaji, perawatan dan amortisasi, dll). Selisih atau marginitulah yang kemudian dikumpulkan pada setiap periodenya (biasanya per bulan) dan kemudian diakumulasikan pada laporan keuangan akhir tahun, kemudian munculah nilai nominal yang disebut profit. Profit perusahaan dibagikan secara proporsional kepada stake holder (komisaris) perusahaan. Direktur, staff dan bawahannya tidak menerima profit perusahaan. Mereka dibayar berdasarkan kesepakatan, bisa berupa gaji atau upah. Pola ini berlaku secara umum, penjelasan lebih detail anda bisa mencari di buku pegangan manajemen perusahaan. Jangan tanya detail ini ke saya.

Dengan pengertian seperti ini, maka organisasi nonprofit berbeda pada mekanisme pembagian laba/profit di akhir tahun. Sebagai perwujudan komitmen nonprofit, maka profit yang diperoleh harus dikembalikan sepenuhnya kepada misi aktifitas organisasi. Profit dikonversi sebagai input untuk meningkatkan misi-misi pada tahun berikutnya. Tidak ada sistem ‘pembagian deviden’ dalam perusahaan nonprofit.

Lalu darimana organisasi nonprofit mendapatkan pemasukkan untuk membiayai aktifitasnya? Disinilah peran Direktur sebagai sosok yang mampu memberikan keseimbangan. Seorang pemimpin organisasi.perusahaan nonprofit, haruslah mempunyai kemampuan entrepreneurship, bukan hanya business entrepreneursemata, tapi Social Entrepreneur.

Social Entrepreneur?

Entrepreneurship identik dengan inovasi dan progresifitas. Dalam dunia bisnis, mereka layaknya mesin pertumbuhan perusahaan, mereka musti peka terhadap peluang (opportunity), merekalah yang menyiapkan ‘bahan bakar’ untuk mendorong perusahaan ketingkat yang lebih tinggi. Entrepreneur mencari added value dengan menciptakan pasar-pasar baru. Hampir sama dengan Social Entrepreneur. Social Entrepreneur mengarah pada transformasi social value yang bermanfaat bagi komunitasnya dan masyarakat pada skala besarnya.

greaterPersoalan sosial yang terjadi, saat ini telah menjadi begitu kompleks, diperlukan individu yang tidak saja visioner, juga ‘tahan banting’ dalam mewujudkan misi organisasinya. Social Entrepreneurberani untuk mendedikasikan hidupnya untuk arah perubahan komunitasnya. Visioner sekaligus realistis, mampu mengimplementasikan secara praktis visi-visi besarnya, adalah juga karakter yang dibutuhkan seorang Social Entrepreneur. Ia mampu menginspirasi, di sisi lain juga mampu membuat sistem kerja yang aplikatif dan memudahkan (user friendly), dipahami oleh banyak orang, etis, adaptif dan mampu memaksimalkan partisipasi (partisipatoris) bagi orang-orang disekitarnya.Satu contoh, sebuah komunitas seniman grafis yang memproduksi majalah dengan pendekatan industri dengan konten-konten yang menyoroti isu sosial lingkungan. Dengan hasil penjualan majalah tersebut, mampu membiayai banyak aktifitas sosial lainnya. Juga satu televisi lokal di Jakarta yang mampu membiayai produksinya dengan aktifitas ekonomi pengolahan sampah. Banyak contoh dalam mewujudkan hal ini, faktor kuncinya adalah jiwa Social Entrepreneur segenap individu-individu yang ada pada kelompok tersebut, tumbuh bersama dan terus berinovasi.

Pada lain tulisan, akan penulis sampaikan beberapa detail pola dari organisasi nonprofit yang dalam banyak hal juga melakukan pendekatan corporate. Dan pada banyak hal, mereka telah sampai pada jalur yang tepat. GOOD adalah satu contoh organisasi nonprofit, yang awalnya hanya sekumpulan seniman design graphic, yang saat ini sudah tumbuh menjadi perusahaan besar.

Sangat disayangkan, banyak organisasi nonprofit saat ini, cukup mengandalkan donasi. Benar, donasi juga satu dari beberapa alternatif pendanaan, seperti layaknya perusahaan, donasi layaknya penyertaan modal kerja, bukan sedekah. Ketidak mandirian dalam pengelolaan ekonomi organisasi, banyak mengakibatkan organisasi nonprofit mati suri atau menua, tidak adaptif pada perubahan sosial yang ada. Perlu adanya penyegaran konsep berorganisasi yang sederhana namun efektif.

Disayangkan juga, bahwa banyak organisasi nonprofit justru digunakan oleh kepentingan tertentu sebagai sayap-sayap organisasi politik dalam hal penggalangan dana untuk akhirnya menjadi tujuan praktis non sosial. Sehingga akhirnya pelaku-pelaku didalamnya belum mencapai ke jiwa social entrepreneurship yang kreatif inovatif namun hanya menjadisocial worker, yaitu buruh/worker (orang yang diberi upah atau gaji) untuk melakukan pekerjaan sosial. Social workerberbeda denganvolunteer. Volunteer atau tenaga sukarela adalah seseorang yang melakukakan sesuatu, bisa aktifitas sosial atau yang lain, tanpa (mengharapkan) bayaran.

Konsep Social Entrepreneur bukan hal yang baru pada masyarakat Indonesia. Koperasi (cooperation) adalah bentuk lain dari Social Entrepreneur, telah tumbuh dan mengakar pada budaya kita. Pasti ada perdebatan mengenai ini, namun cikalnya tetap sama.

Prinsip utama organisasi nonprofit adalah layaknya perusahaan yaitu transparansi, mempunyai tata kelola yang baik dan setiap ‘pekerja’nya mempunyai dedikasi dan komitmen yang tinggi atas misi dan nilai-nilai sosial.

Semua itu tidak tumbuh dengan sendirinya, aktivis sosial tidak bisa lagi berkutat dengan visi-visi besarnya saja, mustilah diikuti dengan melakukan pengorganisasian pada pendekatan corporate yang profitable. Ini akan menghasilkan sesuatu yang nantinya tidak saja bermanfaat bagi komunitasnya, berperan sebagai agen perubahan sosial, namun yang lebih penting adalah mampu menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini dengan jawaban bersahaja, “Saya bekerja pada perusahaan nonprofit” (ron)

*untuk persaudaraanku pada 10 tahun komunitas kenduri cinta

(organisasi nonprofit yang tumbuh organik di semak belukar belantara ibukota Jakarta)

Maiyah ???

Posted by Maiyah | Posted in ARTikel, maiyah | Posted on 17-06-2010

0

Sudut Pandang: Ega Julaeha


egaDalam teori, maiyah berasal dari kata ma’a, yang artinya bersama, beserta Ma’iyyatullaah, kebersamaan dengan Allah. Ma’iyyyah itu kebersamaan, Ma’anaa bersama kita. Ma’iya, bersamaku. Lantas kata-kata dan bunyi Arab itu ‘kesandung’ oleh lidah etnik kita menjadi Maiya, atau Maiyah, atau Maiyahan (Andsisko dalam artikel “maiyah adalah.. (tafsir bebas)).

Mengutip Wikipedia, Maiyah berarti kebersamaan, pertama, melakukan apa saja bersama Allah. Kedua, bersama siapa saja mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan heterogenisme, kearifan pluralisme, dan tidak ada kesenjangan ekonomi. Maiyah sendiri secara “kata” muncul dari untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Wijayanto, MA, dengan menyebut beberapa kalimat : “Inna ma’iya rabbi”, menirukan Musa AS. Untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. “La takhaf wa la tahzan, Innallaha ma’ana”, Jangan takut jangan sedih, Allah bersama kita. Tutur Muhammad SAW, tatkala dikejar-kejar oleh pasukan musuh, untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar.

Dalam pemahaman, menurut Pudji Asmanto, maiyah itu adalah kita sebagai manusia, belajar menjadi penduduk surga, bersama-sama menghadirkan surga di Dunia. Diyakini surga di akhirat sana adalah tempat tinggal makhluk-makhluk pilihan Allah yang sudah barang tentu adalah yang telah “teruji” keimanannya. Di Surga sana sudah tidak lagi ditemui apa yg kita sebut penyakit hati di antara penghuninya, tidak ada iri, dengki, sombong, tamak, egois, “kuasa”, dan apapun itu yang merupakan wujud sifat syetan. Nah maiyah itu ya belajar menjadi penduduk surga, bersama-sama hidup harmonis dalam keberagaman, meminimalisir penyakit hati dalam persinggungannya berinteraksi dengan sesama mahkluk ciptaan Allah di dunia.

Tantangannya ke depan adalah bagaimana jujur ke dalam diri sendiri sebagai individu, dalam berinteraksi dengan individu lain sebagai makhluk social, sudahkah kita punyai kerendahan hati?. Kunci bermaiyah menurut saya adalah punyai kerendahan hati, tidak pandang bulu terhadap apapun dan siapapun, tidak timpang dalam memperlakukan apapun terhadap siapapun, bersama menghadirkan kebaikan. Kenapa kerendahan hati sebagai prasyarat utama? karena dengan kerendahan hati, setiap individu mampu menjaga diri dari lisan dan laku yang menyakiti hati orang lain. Bahkan, mengutip Juman Rofafif dalam artikelnya “Menjaga Perasaan”, Rasulullah SAW mengatakan bahwa yang disebut Muslim adalah orang yang mulut dan tangannya membuat orang lain merasa damai. Kata-katanya tidak menyakiti, perilakunya tidak melukai. Dua-duanya menjadi satu-kesatuan utuh untuk membentuk karakter Muslim sejati. Cak Nun pun pernah menguraikan bahwa seorang mukmin adalah, seseorang yang keber”ADA”annya tidak mengancam nyawa/jiwa, harta, dan harkat martabat orang lain.

Dari pemaparan di atas, dipahami bahwa, melalui kerendahan hati setiap individu mampu menjaga diri dari lisan dan laku yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Dengan kerendahan hati, maiyah akan menemukan bentuknya yang ideal. Namun pertanyaannya kemudian, sudahkah kita benar-benar bermaiyah? sudahkah kita mampu menjaga perasaan orang lain? Atau jangan-jangan, maiyah dilakoni hanya sebatas pemahaman saja? berhenti hanya sampai hajatan-hajatan ritual saja?. Dalam interaksi social kadang “kotak-kotak” itu tak sungguh-sungguh terlihat, tak disadari makin mengkotak, tak lain karena setiap individu pada dasarnya dalam persinggungan sosial, sering kali dihadapkan pada “ketidaksukaan” akan sesuatu hal, manusiawi memang. Namun justru di situ tantangannya, apakah kita mampu bermaiyah dengan sesuatu hal yang tidak kita sukai, tidak cocok, tidak sepaham, berbeda, atau apapun itu. Mari ke arah sana, bermaiyah dalam perbedaan, jadikan perbedaan sebagai input dalam proses bermaiyah, Jangan malah menjadikan perbedaan itu hal yang dapat menjauhkan kita dari konsep maiyah yang sesungguhnya.

Mari kita mengaplikasikan konsep maiyah yang ideal ini ke dalam ranah praktek, dimana maiyah tidak disikapi hanya sebagai “label”, tetapi meresap ke dalam hati, dipahami, digali, dan diaplikasikan, terutama untuk kita-kita yang sering meneriakkan konsep maiyah itu sendiri. Dengan cara bagaimana? tentu ini tak mudah dituliskan, namun akan lebih mengena jika dilakoni. Mari bersama-sama berlatih menjadi penduduk surga, hadirkan surga di dunia melalui kebersamaan, mari bermaiyah.


Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” Bag.4

Posted by Maiyah | Posted in catatan, markesot, patangpuluhan, sejarah | Posted on 17-06-2010

0

Catatan: Munzir Madjid


Pacar Markesot

SIAPA sih Toto Rahardjo ? Pacar Markesot? Bukan.

Saya menggelar “tikar” dahulu agar cerita ini bisa dinikmati tanpa ada selaan atau banyak “interupsi.”

Entah sejak kapan Toto “menyatu” dengan Emha. Awalnya saya juga tidak begitu tahu “makhluk” dari mana, hanya medok banyumasan saja yang mudah dikenali. Saya dengan dia beda “aliran.” Saya bersama kawan-kawan dari kampus, sementara Toto adalah tokohnya LSM. Sesekali muncul, 2-3 hari ngendon di Patangpuluhan, tiba-tiba menghilang entah kemana.

Toto “anak” kesayangan Romo Mangun Widjaya, seorang pastur yang sangat “islami,” hidup menyatu di perkampungan kumuh Kali Code. Istrinya Toto semacam sekretaris pribadinya Romo Mangun.

Jangan kaget, di awal kemunculan KiaiKanjeng (1994) -–Toto salah satu pendiri—- ikut memainkan alat musik Gong. Untuk memainkan alat musik tersebut cukup sulit, kapan dipukul dan kapan berhentinya. Entah dari mana belajarnya, nyanyi saja tidak pernah.

Emha memberi mandat kepada Toto untuk mencari lokasi bakal tempat bengkel Markesot. Sebidang tanah kosong di jalan Bugisan dibangun gubugan, kios tidak permanen. Yang kerja kita-kita juga di bawah arahan “mandor” Markesot. Lalu bla bla bla berdirilah Bengkel Markesot, terpampang spanduk: Menerima Service Mobil/Motor. Dan, “slametan” pun diadakan dengan mengundang tetangga kiri kanan dan “pekok-pekok” Patangpuluhan.

Satu dua hari masih sepi. Seminggu dua minggu mulai satu dua mobil atau motor diservice. Itu juga masih orang-orang dekatnya Emha. Emha tidak segan ikut mempromosikan.

Dalam kehidupan keseharian Markesot memang sering menjengkelkan. Perbedaan kultur dan budaya “preman” ikut mewarnai. Saya seringkali berantem omong. Masalahnya juga hal remeh temeh, sama sekali bukan prinsip. Saking ngeyelnya saya, entah masalah apa, tiba-tiba Markesot mengeluarkan “simpanan”-nya. Semua terkesiap. Sebilah celurit diambil dari almari. Lha kok ada celurit di almari? Padahal almari itu pakainya rame-rame, pakaian saya disimpan disitu juga.

Takut? Jelas mengkeretlah. Markesot memang temperamental. Oleh kawan saya, Imam Syuhada, Markesot diajak ngobrol hal lain. Diambil hatinya agar emosinya menurun. Agak lega saya. Terima kasih tak terhingga untuk: Imam Syuhada

Konflik kecil-kecilan ini tanpa sepengetahuan Emha. Pasti dia akan marah. Seharusnya kitalah yang memahami dan menampung Markesot. Untuk beberapa saat saya dan Markesot saling diam. Kalau disapa melengos dan diam. Asem. Jelek banget.

Jangan khawatir, tidak lama kok. Kita hidup satu atap (tanpa perkawinan), di rumah kontrakan milik Emha, rumah Patangpuluhan. Apa yang disuguhkan di meja kita makan bersama dalam kesederhanaan. Sesekali jalan mencari soto atau makanan khas kaki lima.

“Orang Jogja malas!” kata Markesot di warung.
“Kenapa memang?” tanya saya kaget.
“Nyuguhin teh ndak mau ngaduk!”
“Hahaha, oh itu.”

Teh manis di Jogja memang nyamleng. Wangi dan enak. Karena sering dijog ulang, gulanya hampir setengah gelas. Penjual tidak pernah mengaduk. Penikmatlah yang mengaduk sesuai selera kadar manisnya. Budaya ini yang belum dipahami Markesot.

Markesot, kala itu usianya 40-an tahun. Jejaka kasep. Badan tegap, tangan kaki kekar. Rambut sedikit gondrong dengan kumis dan jambang tak beraturan. Salah seorang adik laki-lakinya sedang kuliah di Surabaya, bergiat juga di teater.

Sering saya pergoki, Markesot menerima tamu seorang wanita, usianya relatif sama. Berkelakar dan saling cubit. Ah, sudah tuwek pacaran juga, bikin iri saja.

Siapa wanita “sial” yang, kok, mau-maunya pacaran dengan Markesot? Ia seorang lulusan sarjana, dan menempati posisi penting di perusahaan Kereta Api yang berpusat di Bandung. Tiap akhir pekan, Sabtu atau Minggu datang dari Bandung ke Patangpuluhan, Jogjakarta, menjenguk sang pujaan hati, Markesot. Tidak jelas kisah asmaranya. Dari beberapa sumber, wanita ini sudah lama sekali menjalin kasih dengan Markesot, namun Markesot malah merantau belasan tahun. Cinta lama bersemi kembali. Kelak, wanita ini dipersunting oleh Markesot. Pernikahan beda status sosial. Why not?

Kembali ke bengkel. Sebulan sudah berjalan, bulan-bulan berikutnya menyusul; kok bengkelnya masih sepi juga. Maksud saya, konsumen ada satu dua dalam sehari, tiga empat sampai lima, namun kok pendapatan sekedar untuk makan minum saja sering nombok.

Wah, jangan-jangan Markesot korupsi. Apa yang didapat tidak berterus terang, tidak dilaporkan, atau ada sesuatu yang disembunyikan.

Secara tidak sengaja ada yang memberi info, bahwa Markesot “terlalu baik.” Jika ada orang kena apes, ban motornya gembos kena paku, misalnya, dengan senang hati Markesot akan menambalnya, meski resminya Bengkel Mobil/Motor; bukan tambal ban. Anehnya, jika dilihat orang yang kena apes itu potongannya orang susah, maka Markesot tidak mau dibayar. Oh, ini tho biang keladinya.

Bisa diduga, semua konsumen diperlakukan sama; bayar murah. Apalagi jika sudah saling mengenal. Gratis.

“Lho kok gak mau dibayar Cak?”
“Mesakno, kena apes masa harus bayar.”
“Lha ini bengkel, siapapun harus bayar.”
“Menolong kan baik!”

Sangat naif. Bengkelnya akhirnya ditutup. Bangkrut. Besar pasak dari pada tiang. Untuk membayar uang kontrakan tahun berikutnya tidak mencukupi.

“Markesot bukan pedagang,” kata Emha.

Jkt,08.06.2010, 01:00
Bersambung…

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” Bag.3

Posted by Maiyah | Posted in catatan, markesot, patangpuluhan, sejarah | Posted on 17-06-2010

0

Catatan: Munzir Madjid

Bengkel Markesot

Yasinan di Patangpuluhan makin hari semakin banyak yang ikut bergabung. Terutama dari mahasiswa UGM, IAIN (kini UIN) dan beberapa perguruan tinggi lain; UII dan IKIP Muhammadiyah (UAD, Universitas Ahmad Dachlan). Mahasiswa-mahasiswa ini terutama dari Jamaah Shalahuddin UGM karena Sanggar Shalahuddin, yang bergiat di teater, aktivitasnya bersentuhan dengan Patangpuluhan. (Jamaah Shalahuddin lintas perguruan tinggi, tidak hanya UGM).

markesot & emha
Di tengah perbincangan serius, tiba-tiba Markesot menyela dan membantah. Bantahannya kadang sangat tidak konteks dengan apa yang menjadi perdebatan. Hal ini berulang terjadi. Siapa saja yang berbicara selalu berhadapan dengan Markesot. Beberapa mahasiswa dibuat jengkel. Bagi mahasiswa, kalimat-kalimat Markesot tidak tersusun secara sistematis.

Emha, yang ada di lingkaran, hanya terlihat tersenyum menyimak. Sesekali Emha meninggalkan forum masuk ke bilik pribadinya. Siapapun tahu, Emha meneruskan mengetik tulisan yang mendekati deadline beberapa surat kabar dan majalah. Surabaya Post, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Suara Merdeka, Wawasan, Tempo. Beberapa redaktur berkirim surat minta tulisan, untuk secara temporal dimuat; Kompas, Suara Pembaruan dst.

“Mahasiswa ini bagaimana, katanya orang pintar kok tidak paham omongan saya,” Markesot protes.

“Orang pintar itu harus memahami bahasanya orang bodoh,” Markesot masih protes.

Semua hadirin terkesiap. Markesot tidak tamat sekolah dasar tapi omongannya sangat dalam.

“Kalau saya tidak paham omongan sampeyan, ya wajar, lha saya kan tidak sekolah!” Markesot terus mencerca para mahasiswa. Matanya memerah. Tangannya diacung-acungkan. Beberapa mahasiswa di kiri kanan Markesot berusaha meredam dengan mengelus punggungnya. Markesot secara kasar membuang tangan yang mengelusnya, “Saya tidak marah…!”

Dari balik pintu Emha ikut melongok, lalu bergabung. Bantah berbantah masih berlangsung.

“Pertanyaannya adalah orang awam harus memahami orang pintar atau sebaliknya?” Emha memulai ikut berbicara.

“Seharusnya mahasiswa, orang-orang pintar, dituntut bisa memahami bahasanya orang bodoh, bahasanya orang awam. Jangan sebaliknya. Kalian ini orang-orang beruntung, bisa sekolah tinggi. Tampunglah semua orang, tampunglah Markesot.”

Markesot merasa dibela. Hampir sebagian forum merasa kesal dengan Markesot. Karena tiap diskusi yang dibangun selalu berantakan jika ada Markesot. Ia menjadi momok. Sangat menjengkelkan. Markesot dianggap bodoh.

Itulah Guk Nuki, kawan lama “Guk Nun.” Orang yang sangat disayang Emha. Kini Markesot di Jogja.

Setelah melanglang di hutan Kalimantan, Markesot pulang ke Jombang. Kerja serabutan di kampungnya atau di Surabaya. Sesekali dipanggil untuk bantu-bantu service mobilnya Emha.

Keahlian Markesot mbenerin mobil sangat spesial. Tanpa mengganti spare part baru dengan kecerdasannya sebuah mobil ngadat bisa jalan lagi dan irit bensin. Repotnya, sewaktu-waktu mobil bermasalah sementara Markesot berhalangan tidak bisa ke Jogja, maka “terpaksa” mobil harus ditangani montir bengkel konvensional. Disitulah akan terjadi “pertarungan kultural.” Versi Markesot akan diganti semuanya oleh montir bengkel. Karena dianggap merepotkan dan tidak baku teorinya. Jalan pintasnya, ganti spare part baru. Ini kan hukum dagang, rusak sedikit harus beli yang baru. Mudah kan?

Lalu, Emha meminta tolong Toto Rahardjo untuk mencari tanah kosong untuk dijadikan tempat mangkalnya Bengkel Markesot… []

Jkt,26.05.2010, 09:32
Bersambung…


Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” Bag.2

Posted by Maiyah | Posted in catatan, markesot, patangpuluhan, sejarah | Posted on 17-06-2010

0

Catatan: Munzir Madjid



Guk Nuki

Di Jawa Timur panggilan yang paling populer adalah “Cak,” mengalahkan panggilan “Mas” untuk Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta). Orang Sunda terbiasa dengan “Aa.” Panggilan “Cak” lebih egaliter, tidak memandang strata sosial. Cak Ruslan, Cak Markeso (bukan Markesot), Cak Kandar, Cak Kartolo atau Cak Nur.

Ternyata ada panggilan yang lebih “ndeso” lagi, kurang populer, mungkin orang Jawa Timur-pun banyak yang sudah lupa, yaitu “Guk.” Panggilan “Guk” lebih banyak digunakan di desa-desa untuk petani, pangon, tukang ngarit dst. Saya sendiri bukan dari Jawa Timur, jika ternyata kurang pas mohon diberi pembenaran.

Tersebutlah nama Guk Nuki sebagai kawan main Emha sejak kecil. Bukan teman sekolah, karena Guk Nuki sendiri tidak tamat sekolah tingkat dasar. Bisa jadi semacam teman “nakal.” Teman mencuri mangga milik tetangga, memindahkan sandal ke tempat tersembunyi sesama kawan di langgar. Atau, mengikat sebutir garam dengan benang lalu dimasukkan ke mulut kawannya yang sedang tidur, jika garam dikecap secara perlahan benang diangkat. Kenakalan yang sungguh mengasyikkan. Sampai kini Guk Nuki dan Guk Nun masih berkawan akrab.

markesot sang legenda

Nama aslinya, saya kurang begitu paham, Nuchin siapa gitu. Di usia remaja merantau ke pedalaman Kalimantan. Ia bergaul dengan alam yang ganas dan lingkungan dari berbagai suku. Ia bisa masuk ke suku melayu, dayak dan madura. Keahliannya merakit ulang mesin yang rusak, dari berbagai jenis. Dari kipas angin, diesel, motor, mobil dan kapal yang teronggok. Dengan kreatifitasnya ia bisa menghidupkan kembali mesin tanpa dengan spare part baru. Bisa dengan cara kanibal atau rekayasa ketrampilan tangannya.

Konon, kala tidur di bawah pohon tua di hutan pedalaman Kalimantan pernah mengalahkan para jin yang tiba-tiba mengeroyoknya. Ia “preman” juga rupanya. Dialek bicaranya sangat kental jawatimuran dan kasar. Raut mukanya dihiasi kumis dan jenggot tak teratur.

Guk Nuki ini menginspirasi Emha untuk mengangkat menjadi tulisan berseri di Surabaya Post, akhir 1980-an sampai awal 1990-an: “Markesot Bertutur.” Guk Nuki ini ya Markesot itu.

Dari cara berpikirnya yang sederhana, menjadi buah-buah pikiran yang sangat filosofis. Emha seolah menemukan “sumur ilham” untuk menjadikan “Markesot Bertutur” tulisan yang hidup, jujur, polos dan sangat bernas. Berkat tulisan berseri ini, fasilitas sekolah dan lembaga pendidikan “Al Muhammady” di Menturo, Jombang; diperbaiki. Karena Emha menghibahkan hasil honor seluruhnya untuk kelangsungan pembangunan lembaga pendidikan milik keluarga tsb.

Jkt,12.05.2010, 07:35
Bersambung…